Mengapa Nabi Yusuf melewati “sumur” “istana” “penjara” ?

 


Apa pelajaran mendalam dari “sumur” “istana” dan “penjara”

Tanpa kita sadari, kita seringkali melewati fase tersebut, tetapi kita tidak sadar karena tidak mengambil pelajaran dari kisah Yusuf.

Ada satu pertanyaan yang mungkin seringkali muncul dalam benak kita :

“Mengapa Allah terkadang mengambil orang-orang yang kita cintai?”

“Mengapa Allah membiarkan kita melewati masa-masa yang begitu sepi?”

Sudah seharusnya kita mendalami Kisah Nabi Yusuf sedari awal.

- Sumur : Ketika Allah memisahkan kita sebelum mengantarkan kita

Kita kehilangan pekerjaan, kita berpindah dari lingkungan yang selama ini membuat kita nyaman, sahabat mulai meninggalkan kita, orang tua tidak lagi selalu ada di sisi kita. Atau mungkin kita merantau ke Tempat yang jauh, memulai hidup sendirian tanpa keluarga.

fase-fase tersebut seringkali kita anggap fase tanpa Makna atau bahkan fase kemunduran, padahal bisa jadi itu adalah cara Allah mempersiapkan kita.

Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf, setelah mendapatkan mimpi yang indah, Allah tidak langsung mengangkat derajatnya, yang pertama kali terjadi justru sebaliknya, Yusuf dilemparkan ke sumur.

Jika kita melihat hanya dari peristiwa yang Nampak, sumur adalah tempat yang gelap dan menakutkan.

Namun jika kita merenungkan lebih dalam, kita akan menemukan bahwa sebelum Allah menyampaikan Yusuf ke istana, Allah lebih dulu memisahkannya dari segala sesuatu yang selama ini menjadi sandarannya. Ia berpisah dari ayah yang sangat mencintainya, berpisah dari rumah yang penuh kehangatan, berpisah dari masa kecilnya, semua yang selama ini memberi rasa aman seolah dicabut seketika.

Bukankah kita pun mengalami demikian?

Selalu ada fase dimana seolah Allah mengambil satu demi satu hal yang membuat kita nyaman.

Bukan karena Allah hendak menghancurkan kita, melainkan karena Allah mengajarkan kepada kita bahwa sandaran terbesar kita bukanlah tempat, bukan manusia, dan bukan keadaan. Melainkan Allah semata.

Seringkali kita baru mengenal diri kita ketika tidak ada lagi yang bisa kita andalkan selain Allah.

Disitulah kesabaran diuji, disitulah tawakal mulai tumbuh, disitulah kita mulai belajar bahwa iman tidak dibangun saat hidup selalu mudah, tetapi ketika semua rasa aman selain Allah perlahan dilepaskan dari hati kita.

Mungkin itulah mengapa fase-fase yang paling sunyi dalam hidup sering kali menjadi fase yang paling banyak mengubah kita.

Bukan karena kesunyian itu menyenangkan, tetapi karena dalam kesunyian itulah kita mulai mendengar suara hati kita sendiri. Dan lebih penting lagi kita memiliki fokus untuk belajar mendengar petunjuk Allah.

Rumah Al-Aziz : Ketika tidak ada yang melihat, siapakah kita?

Salah satu kisah yang paling sering dibahas dalam Surah Yusuf adalah godaan istri Al-’Aziz.

Namun, jika kita hanya melihatnya sebagai kisah tentang syahwat, kita mungkin kehilangan pelajaran yang jauh lebih besar.

Yang sedang diuji pada diri Yusuf bukan hanya hawa nafsunya, yang sedang diuji adalah jati dirinya.

Bayangkan posisi Yusuf pada saat itu, ia bukan orang yang memiliki kekuasaan, ia bukan penduduk asli negeri tersebut, ia hanya seorang budak yang jauh dari keluarganya.

Secara lahiriah, tidak ada seorang pun yang akan membelanya jika ia tergelincir. Bahkan, bisa saja ia mencari berbagai alasan untuk membenarkan perbuatannya.

“Keadaanku sulit” - “Aku sendirian” - “Tidak ada yang tahu”

Bukankah alasan-alasan seperti ini juga sering muncul dalam hidup kita?

- Saat tidak ada yang melihat, kita merasa lebih mudah menunda salat.

- Saat tidak ada atasan, kita mulai bekerja asal-asalan.

- Saat tidak ada yang memeriksa, kita tergoda untuk tidak jujur.

- Saat tidak ada yang mengenal kita, kita merasa bebas menjadi pribadi yang berbeda.

Tetapi Yusuf mengajarkan sesuatu yang luar biasa.

Jawabannya bukan, “Aku takut diketahui manusia” Bukan pula, “Aku takut kehilangan nama baik”

Yang pertama keluar dari lisannya adalah, “Ma’adzallah.” — “Aku berlindung kepada Allah”

Seolah-olah Yusuf ingin mengajarkan kepada kita bahwa ukuran baik dan buruk bukanlah apakah manusia melihat atau tidak.

Ukurannya adalah apakah Allah ridha atau tidak. Integritas yang sejati lahir ketika kita tetap memilih kebenaran, bahkan saat tidak ada seorang pun yang menyaksikannya.

- Penjara: Ketika Berbuat Benar, Tetapi Tetap Disalahkan

Mungkin tidak ada ujian yang lebih berat daripada difitnah.

Kita sudah berusaha jujur. Sudah berbuat baik.

Sudah menjaga diri. Namun tetap saja kitalah yang disalahkan. Bukankah itu yang dialami Yusuf?

Beliau dipenjara bukan karena kejahatan yang dilakukan. Beliau dipenjara karena kebenaran yang dipertahankannya. Di sinilah banyak orang kehilangan semangat.

Kita sering sanggup menerima konsekuensi dari kesalahan kita sendiri. Tetapi ketika dizalimi padahal tidak bersalah, hati kita mulai bertanya,

“Ya Allah, mengapa justru orang yang berusaha taat yang mengalami ini?”

Surah Yusuf mengajarkan bahwa keadilan manusia bisa saja terlambat. Namun keadilan Allah tidak pernah terlambat.

Yang menarik, Yusuf tidak membiarkan masa penjaranya berlalu dengan keluhan. Beliau tetap memberi manfaat kepada orang lain. Beliau mendengarkan kisah dua penghuni penjara. Beliau menafsirkan mimpi mereka. Beliau mengajak mereka mengenal Allah.

Jangan menunggu hidup sempurna untuk mulai memberi manfaat.

Jangan menunggu semua masalah selesai baru ingin berdakwah. Jangan menunggu kaya untuk berbagi.

Karena bisa jadi, justru melalui manfaat yang kita berikan di masa-masa sulit itulah Allah sedang membuka pintu-pintu pertolongan yang belum kita lihat. Yusuf belajar melayani manusia sebelum Allah mempercayakan kepadanya kepemimpinan. Dan mungkin itulah salah satu sunnatullah dalam kehidupan.

Orang yang mampu menjaga amanah kecil dengan ikhlas, akan Allah siapkan untuk amanah yang lebih besar. Artinya, meskipun berada dalam ruang yang sempit, Yusuf tetap menghadirkan manfaat yang luas. Ini pelajaran besar bagi kita.

Sekian

Oleh: Miftahilmi

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url