Larangan Menambahkan Lafadz "Walau Karihal Munafiqun" saat Takbiran Idul Fitri
Dalam gema takbir Idul Fitri yang penuh kebahagiaan, sering kali terjadi perbedaan kecil dalam bacaan yang dilantunkan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah larangan menambahkan lafadz "walau karihal munafiqun" dalam takbir Idul Fitri. Hal ini disampaikan secara tegas dalam penjelasan di Instagram Pondok Pesantren Al Anwar Sarang. Penjelasan ini bertujuan untuk meluruskan pemahaman dan menjaga kesucian ibadah sesuai dengan tuntunan syariat. Mari kita pelajari lebih dalam agar takbir kita senantiasa sesuai dengan sunnah dan penuh keberkahan.
Pada tahun 1436 H, sebuah kejadian terjadi di Mushola Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang. Seorang santri, dalam melakukan takbir Idul Fitri, menambahkan lafadz "Walau karihal munafiqun" setelah takbir. Saat itu, Syaikhuna KH. Maimoen Zubair, yang mendengar suara takbiran tersebut dari ruang tamunya, segera memanggil santri ndalem-nya dan mengutusnya untuk memberi tahu santri yang sedang takbiran agar tidak menambahkan lafadz tersebut.
Di suatu kesempatan, santri tersebut bertanya langsung kepada Syaikhuna KH. Maimoen Zubair mengenai alasan larangan menambahkan lafadz "Walau karihal munafiqun" dalam takbiran. Syaikhuna menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an hanya ada dua lafadz yang sah yaitu "Walau karihal kafirun" (meskipun benci pada orang-orang kafir) dan "Walau karihal musyrikun" (meskipun benci pada orang-orang musyrik). Namun, lafadz "Walau karihal munafiqun" tidak ada dalam al-Qur'an.
Syaikhuna menegaskan bahwa meskipun orang munafiq hakikatnya adalah orang kafir, mereka tetap termasuk dalam barisan umat Islam dan memperlihatkan dirinya sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu, kita tidak boleh memusuhi mereka meskipun ada rasa benci. Jika kita memusuhi orang munafiq, maka itu sama saja dengan memusuhi sesama umat Islam. Beliau mengingatkan bahwa orang munafiq terkadang masih bisa diampuni oleh Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat At-Taubah ayat 106:
"Dan ada lagi yang lain, yang menunggu keputusan Allah, baik dia menyiksa atau menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." (QS. At-Taubah: 106)
Dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk tidak terburu-buru memusuhi sesama umat Islam, meskipun mereka memiliki kelemahan atau kekurangan. Setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menambah-nambahkan lafadz dalam ibadah kita, terutama dalam hal yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak disebutkan dalam sumber-sumber syar'i yang sah.
Bagi umat Islam, khususnya dalam konteks takbir Idul Fitri, hendaknya kita mengikuti tata cara yang telah ditetapkan dalam al-Qur'an dan sunnah, untuk menjaga kesucian ibadah kita dan menghindari penambahan lafadz yang bisa membingungkan atau tidak sesuai dengan ajaran yang benar. Sebagaimana yang diajarkan oleh Syaikhuna KH. Maimoen Zubair, kita seharusnya tidak menambahkan lafadz seperti "Walau karihal munafiqun" yang tidak terdapat dalam al-Qur'an, dan lebih bijak dalam menyikapi keberagaman di tengah umat Islam.
Adapun lafadz takbir Idul Fitri yang benar sudah saya tuliskan dalam sebuah artikel, Anda dapat membukanya disini untuk referensi lebih lanjut. Semoga momen Idul Fitri ini menjadi waktu yang penuh berkah dan kesucian bagi kita semua. 🌙✨📜