Megengan: Tradisi yang Mengandung Makna Spiritual


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Pada kesempatan kali ini, kami ingin mengajak para pembaca untuk menyimak Mauidzotul Hasanah yang disampaikan oleh KH. Syamsudin Tohir melalui Channel YouTube Pondok Pesantren Darul A'mal Kota Metro. Dalam mauidzahnya, beliau membahas tentang tradisi megengan atau punggahan, yang dikenal juga dengan nama ruwahan, sebagai salah satu cara umat Islam di Indonesia menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi ini sarat makna dan mengandung nilai-nilai kebaikan yang penting untuk kita pahami dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Megengan, yang juga dikenal dengan sebutan Ruwahan atau Punggahan, adalah sebuah tradisi yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk persiapan untuk menyambut bulan yang penuh berkah. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini telah menyebar ke seluruh Nusantara.

Pengertian dan Makna Megengan

Pada dasarnya, megengan yang bentuknya mengadakan ziarah makam, selametan atau sodaqohan adalah ajaran agama. Namun ajaran yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Dalam hal ini, masyarakat melaksanakan tradisi dengan berziarah ke makam keluarga atau orang-orang terdekat yang sudah meninggal dunia. Tujuan utamanya adalah untuk mengingatkan diri akan kematian, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Seperti yang dijelaskan oleh KH. Syamsudin Tohir, tradisi megengan sebenarnya adalah bagian dari ajaran agama yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Megengan bukanlah ibadah yang hanya berlaku pada waktu tertentu atau hanya dilakukan menjelang bulan Ramadan. Meskipun demikian, masyarakat banyak yang melaksanakannya menjelang Ramadhan sebagai bentuk persiapan spiritual.

Tradisi Ziarah Kubur 

Salah satu tradisi yang melekat dalam tradisi megengan adalah ziarah kubur. Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda:
"Dulu saya melarang kalian melakukan ziarah kubur, sekarang berziarahlah." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa ziarah kubur memiliki tujuan yang sangat penting, yaitu untuk mengingatkan kita akan kematian dan kehidupan setelahnya. Dengan berziarah ke makam, kita diingatkan untuk selalu berbuat baik dan menjaga hubungan dengan Allah SWT. Mendoakan arwah orang yang sudah meninggal dengan membaca doa atau ayat-ayat Al-Qur'an adalah sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan meskipun waktu pelaksanaannya tidak ditentukan secara khusus.

Mendoakan yang Sudah Meninggal: Sunnah yang Ditekankan

KH. Syamsudin Tohir juga menjelaskan bahwa mendoakan orang yang sudah meninggal, baik yang ada di makam maupun yang lain, adalah sebuah sunnah. Membacakan Al-Qur'an atau doa untuk orang yang telah meninggal dunia merupakan amalan yang sangat baik. Hal ini sesuai dengan prinsip dalam Islam bahwa mendoakan orang yang telah meninggal adalah bagian dari ciri-ciri anak yang soleh.
Namun, perlu diingat bahwa tradisi megengan yang dilakukan menjelang Ramadhan atau pada waktu-waktu tertentu tidak memiliki dalil khusus yang mengharuskan hal tersebut. Meskipun ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa doa yang dipanjatkan kepada orang yang telah meninggal bisa menghindarkan mereka dari siksaan, hal ini masih bisa diperdebatkan karena adanya hadis dha'if (lemah). Walaupun demikian, kita tetap bisa mengambil hikmah dari ajaran ini untuk selalu mendoakan orang yang telah meninggal, kapan saja.

Hukum dan Keutamaan Megengan

Menurut Imam Syafi'i, segala sesuatu yang tidak ada larangan dalam agama untuk melakukannya adalah boleh dilakukan. Artinya, megengan sebagai sebuah tradisi hukumnya boleh, karena tidak ada dalil yang melarangnya. KH. Syamsudin Tohir juga menekankan bahwa kita tidak boleh meyakini bahwa mendoakan orang yang sudah meninggal hanya bisa dilakukan menjelang bulan Ramadhan saja, karena hal itu merupakan keyakinan yang salah.
Meskipun demikian, ada keterangan yang menyebutkan bahwa doa untuk orang yang telah meninggal bisa memberikan keutamaan. Bahkan, dalam hadis disebutkan bahwa pada malam nishfu Syaban dan hari-hari terakhir bulan sya'ban, kita dianjurkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan ibadah, termasuk berziarah ke makam. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan kita akan kematian dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT.
Dalam hal ini, kita dapat mengisi megengan dengan aktivitas-aktivitas yang bernilai ibadah, seperti ziarah kubur. Dengan demikian, kita bisa termasuk dalam golongan orang yang bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, yang dijanjikan oleh Allah untuk diampuni dosa-dosa yang telah lewat.

Mentradisikan yang Baik dalam Islam

Menurut KH. Syamsudin Tohir, menghidupkan tradisi yang baik, yang tidak bertentangan dengan ajaran agama, adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Hal ini sejalan dengan hadist :
"Barang siapa yang mendahulukan sesuatu yang baik, maka dia akan mendapatkan pahala." (HR. Muslim).
Apabila sebuah tradisi tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan mengandung nilai-nilai yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis, maka tradisi tersebut dapat dianggap sebagai sunnah hasanah (perbuatan baik). Oleh karena itu, megengan yang dilaksanakan dengan niat untuk beribadah, seperti melakukan ziarah kubur dan mendoakan orang yang sudah meninggal, adalah sesuatu yang baik dan perlu dilestarikan.
Namun, sebaliknya, kita juga perlu menghindari tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti yang dilarang oleh agama. Kita harus bijak dalam memilih tradisi yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Kesimpulan

Tradisi megengan adalah sebuah tradisi yang memiliki nilai spiritual yang mendalam, terutama dalam mengingatkan kita akan kematian dan pentingnya mendoakan orang yang sudah meninggal. Meskipun tidak ada dalil khusus yang mengkhususkan waktu untuk melaksanakan tradisi ini, kita bisa melaksanakannya dengan niat ibadah yang benar, seperti yang dijelaskan oleh KH. Syamsudin Tohir. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu untuk melestarikan tradisi megengan, selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan mengandung nilai-nilai yang positif. 

Dengan menjaga niat yang baik dan mengikuti ajaran yang benar, kita bisa memperoleh keutamaan dan pahala dari Allah SWT.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url