Fi'il Muta'adi dan Fi'il Lazim (تعدي الفعل ولزومه)

Pada kali ini saya akan merangkum bab fiil muta'adi dan fi'il lazim dan sedikit mengulas tentang bab ini. Jika anda menemukan kesalahan pada penulisan ataupun penjelasan, mohon kiranya untuk meluruskan. 

علامه الفعل المعدى ان تصل # ها غير مصدر به نحو عمل

Tandanya fi'il muta’adii yaitu adanya dengan ha’ dhomir yang rujuknya kembali kepada selain masdar. Contoh : البَابُ اَغْلَقْتُهُ

Fi'il mutaadi yaitu fi'il yang memiliki maf'ul. Contoh : ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا .  sedangkan fi'il lazim adalah fi'il yang tidak  memiliki maf’ul dan tidak bertemu apapun kecuali dengan huruf jer. Contoh :  مررتُ بِزَيْدٍ  dan قام زيدٌ

فانصب به مفعوله ان لم ينب # عن فاعل نحو تدبرت الكتب 

Apabila fa’il terbuang maka maf'ul dibaca rofa menjadi naibul fa'il. Contoh : ضُرِبَ عَمْرٌو asalnya adalah ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا .

   ولازم غير المعدل وحتم  # لزوم افعال السجايا كنهم

Bila fi'il  mempunyai arti watak maka dinamakan fi'il lazim. Contoh : شَجُعَ (berani), حَسُنَ (tampan)

 كذا افعلل والمضاهي اقنسسا  # وما اقتضى نظافة او دنسا 

Begitu juga lafadz yang mengikuti wazan افْعَنْلَلَ, افْعَلَلَّ Dan fi'il yang mempunyai arti bersih atau kotor dikategorikan sebagai fi'il lazim. Contoh : اقْشَعَرَّ (merinding), اطْمَأَنَّ (tenang), احْرَنْجَمَ (gudiken), نَظُفَ (bersih), طَهُرَ (suci), نَجُسَ (najis).

او عرضا او طاوع المعدى #  لواحد  كمده فامتد 

Atau Begitu juga lafadz yang kategori fi'il lazim yaitu lafadz yang mempunyai arti baru (عرض) Contoh : مَرِضَ (Sakit), كَسِلَ (malas), نَشِطَ (semangat), فَرٍحَ (bahagia), حَزِِنَ (susah). Maksud arti baru di sini adalah sesuatu yang awalnya tidak ada kemudian menjadi ada pada contoh di atas dicontohkan menggunakan kata sakit, bahwa sakit adalah sesuatu yang baru dikarenakan yang awalnya tidak sakit kemudian menjadi sakit juga seperti lafadz malas yang awalnya rajin kemudian menjadi malas. maka hal ini dikatakan sesuatu yang baru.

Begitu juga kalimat yang dikategorikan fi'il lazim yaitu lafadz yang mempunyai mutawa'ahnya fi'il muta’adi kepada maf'ul 1. Mutowa’ah itu adalah sebab-akibat. Misal دحرَجْتُ الْحَجَرَ فَتَدَحْرَجَ (saya menggelindingkan bola, sehingga bola menjadi menggelinding). Jadi setiap lafadz yang memiliki faedah mutawa'ah atau sebab akibat maka dikatakan fi'il lazim. Untuk lebih mudahnya mengenali fil lazim atau fi'il mutaadi adalah  apabila suatu lafadz itu menunjukkan makna dilakukan oleh satu anggota atau dengan hati atau dengan panca indra maka dinamakan fi'il muta'addi seperti  memukul (ضَرَبَ) dilakukan oleh tangan tidak semua tubuh ikut memukul. Namun apabila dilakukan oleh semua anggota badan maka dinamakan fil lazim. Seperti Bersuci (طَهُرَ) maka yang dinamakan Suci adalah seluruh tubuh tidak hanya sebagian tubuh.

وعد لازما بحرف جر # وان حذف  فالنصب للمجر

Bila huruf Jar terbuang maka wajib dibaca nashab (dinamakan Isim manshub dengan membuang huruf Jer) contoh مَرَر ْتُ زَيْدًا asalnya مَرَرْتُ بِزَيْدٍ . contoh lain seperti dalam kitab-kitab fiqh lafadz لُغَةً asalnya adalah فِي لُغَةٍ

نقلا وفي ان وان يطرد # مع امن لبس كعجبت ان يدوا

“Boleh membuang huruf jer bila majrurnya lafadz اَنَّ dan اَنْ bila tidak ada iltibas”

Pembuangan huruf Jer pada selain اَنَّ dan اَنْ Maka pembuangannya adalah secara sima’i (sesuai adat kebiasaan orang arab berbicara), bukan secara qiyasi (sesuai tatanan gramatika bahasa arab) yang berlaku. Contoh شَكَرْتُهُ . Sedangkan pembuangan huruf jer pada اَنَّ dan اَنْ secara qiyasu diperbolehkan dengan syarat tidak terjadi iltibas (sesuatu yang membuat tatanan bahasa arab menjadi tidak sesuai) Contoh : عجبتُ اَنْ يَدُوْا , عَجِبْتُ اَنَّكَ تَقُوْمَ asalnya adalah عجبتُ مِنْ اَنْ يَدُوْا , عَجِبْتُ مِنْ اَنَّكَ تَقُوْمَ

Namun jika ada iltibas maka tidak diperbolehkan, contoh : رَغِبْتُ عَنْ اَنْ تَفْعَلَ , رَغِبْتُ فِى اَنْ تَفْعَلَ. Pada contoh ini, pembuangan huruf jer tidak boleh dilakukan, dikarnakan kalimat رَغِبَ butuh huruf jer عَنْ atau فِى untuk menyempurnakan maknanya. Karna lafad رَغِبَ yang sesudahnya berupa huruf jer فِى maka bermakna suka. Sedangkan lafad رَغِبَ yang sesudahnya berupa huruf jer عَنْ maka bermakna benci. 

والاصل سبق فاعل معنى كمن # من البسن من زاركم نسج اليمن

"Boleh mendahulukan fa’il fil ma’na daripada secara lafadz dan secara makna”

Ketika fiil muta'adi kepada dua maf'ul dan maf'ul yang kedua bukan berasal dari khobar maka boleh mendahulukan makmul yang dalam hal ini berupa fail secara makna. 

Contoh : اعطيتُ زيدا درهمًا (saya memberikan zaid sebuah uang dirham) asalnya adalah mendahulukan zaid daripada lafad درهم karena sesungguhnya lafadz زيد adalah fail (pelaku) secara makna. Kenapa bisa begitu? Ya, karena Zaid adalah pengambil uang dirham. Dhomir تُ yang bermakna saya, adalah memberi uang dirham kepada zaid. Maka Zaid adalah orang yang menerima uang dirham tersebut. Sedangkan lafad درهم adalah objek yang diambil. Maka dalam hal ini boleh juga mendahulukan maf'ul fil makna yg dalam hal ini adalah lafadz درهم menjadi اعطيتُ درهما زيدا  (saya memberikan sebuah dirham kepada zaid)

Contoh lain :

كَسَيْتُ زيدًا جُبَةً saya memakaikan zaid pakaian jubah.

Secara makna, Zaid adalah pelaku untuk memakai jubah. Maka boleh juga didahulukan maf'ul fil makna menjadi كـَسَيْتُ جبةً زيدًا (saya memakaikan jubah kepada zaid)

Contoh lain lagi yang ada pada nadzom :

ِاَلْبِسُنْ مَنْ زَارَكُمْ نَسْجَ الْيَمَن pakaikanlah kepada orang yang datang kepadamu pakaian tenun dari yaman.

Lafadz مَن adalah maf'ul awal, dan َنَسْج adalah maf'ul tsani. Asalnya adalah mendahulukan lafadz مَن daripada lafadz ِنَسْجَ الْيَمَن dikarenakan من adalah pelaku pemakai نسج اليمن . Maka dalam hal ini boleh juga mendahulukan maf'ul fil maknanya menjadi البسن نسج اليمن من زاركم

ويلزم الاصل لموجب عرى # وترك ذاك الاصل حتما قد يري

"Bila ada iltibas, wajib mendahulukan fail fil makna daripada lafdzon wa maknan"

Contoh : اعطيتُ زيدًا عمرًا 

Pada contoh diatas terdapat iltibas, karena sulit untuk mengetahui siapa yang fa'il fil makna dan siapa yang maf'ul fil makna. Maka dalam hal ini tergantung konteks kalimat. Jika yang dikehendaki fa'il fil makna adalah زيد maka lafadz زيد harus didahulukan daripada lafadz عمرو. Berarti makna contoh diatas adalah "saya memberi Zaid seorang Amr". Dalam hal ini Zaid adalah fa'il fil makna (pelaku/subjek) untuk menerima Amr selaku Maf'ul fil makna (objek).

Ada lagi yang wajib didahulukan apabila maf'ul fil maknanya diringkas semisal اعطيتُ زيدًا الادرهمًا (saya memberi zaid kecuali hanya sebuah dirham). Maka dalam hal ini fa'il fil makna (زيد) wajib didahulukan. 

Atau ada lagi yang wajib didahulukan fa'il fil makna apabila maf'ul fil makna berupa isim dzohir sedangkan fa'il fil makna berupa isim dhomir muttasil. Contoh : انَّا اَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ (Sesungguhnya kami memberikan kepadamu Nikmat yang banyak).

Namun terkadang bisa juga wajib mengakhirkan fa'il fil makna seperti اعطيت الدرهم صاحبه (saya memberikan sebuah dirham kepada pemiliknya). Dalam hal ini lafadz صاحبه menjadi fa'il fil makna namun tidak boleh didahulukan karena memiliki dhomir yang rujuk kepada lafadz sebelumnya. Dan juga terkadang wajib mengakhirkan fa'il fil makna apabila fa'il fil makna diringkas seperti اعطيت الدرهم الازيدًا (saya memberi sebuah dirham kecuali hanya kepada Zaid).

Maka, kesimpulannya :

1. Fa'il fil makna boleh didahulukan dan boleh diakhirkan

2. Fa'il fil makna wajib didahulukan

3. Fa'il fil makna wajib di akhirkan.

وحذف فضلة اجز ان لم يضر # كحذف ما سيق جوابا اوحصر

"Membuang isim fudhlah (isim tambahan) hukumnya boleh selama tidak ada iltibas".

Yang dikehendaki dengan isim fudhlah adalah sesuatu yang bukan rukun dari susunan kalimat dalam hal ini seperti semua maf'ul kecuali maf'ulnya dzonna wa akhowatuha. Kebalikan dari fudhlah adalah isim 'umdah (عمدة) yang artinya lafadz yang pokok seperti fa'il. 

Contoh : ضربتُ زيدًا  (Saya memukul zaid yakni saya memukul) cukup di tulis اضربتُ

Pada contoh diatas usai lafadz اضربْتُ tidak menyebutkan maf'ul bih karna sudah dianggap cukup. 

Contoh lain : اعطيت زيدا درهما saya memberikan Zaid sebuah dirham. Cukup ditulis اعطيتُ. Tidak menyebutkan maf'ul bih.

Contoh lain dalam Al Qur'an : فاما من اعطى واتقى Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa.

Usai lafadz اعطى tidak menyebutkan maf'ul bih yakni lafadz مَنْ yang andai ditulis adalah

 فاما من اعطى مَن واتقى مَن 

Contoh lain dalam Al Qur'an : 

ولسوف يعطيك ربك فترضى Dan sungguh kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas

Usai lafadz فترضى tidak menyebutkan maf'ul bih yakni dhomir muttasil كَ

Dapat disimpulkan bahwa pembuangan isim fudlah ada kalanya alasan secara lafdzon dan ada kalanya alasan secara Maknan. 

1. Alasan secara lafdzon

Seperti pada Tanasubul fawasil (memperbaiki akhir ayat) contoh : ماودعك ربك وماقلى اي قلاك (Tuhanmu tidak meninggalkan Engkau Muhammad dan tidak pula membencimu

dhomir ك tidak disebutkan agar memperindah sajak akhir ayat Al Qur'an.

Dan juga seperti peringkasan lafadz. Contoh : فان لم تفعلوا ولن تفعلوا

2. Alasan secara maknawi

a. Adakalanya karena alasan menghina seperti  كتب الله لاغلبنّ اى الكافرين lafad الكافرين dibuang alasan untuk menghina

b. Adakalanya karena alasan menganggap cacat (tidak layak dikatakan) seperti hadist dari Aisyah r.a مارايتُ منه ولارأى منى اي العورة saya tidak pernah melihat (Aurat) Nabi dan Nabi tidak pernah melihat dariku (Aurat). Perkataan Aurat oleh Aisyah tidak dikatakan karena itu sesuatu yang tidak layak dikatakan. Yang asalnya adalah مارايتُ (العورة) منه ولارأى (العورة) منى

Apabila pembuangan isim fudhlah terjadi iltibas maka tidak boleh dibuang. Semisal maf'ul bih jatuh pada jawaban dari sebuah pertanyaan

"مَنْ ضربتَ؟"  فتقول "ضربتُ زيدًا"

Atau maf'ul bih jatuh setelah perabot hasr (ringkasan) seperti ماضربتُ الازيدًا 

Maka kedua contoh diatas tidak diperbolehkan membuang isim fudhlah.

ويحذف الناصبها ان علما # وقد يكون حذفه ملتزما

"Amilnya makmul fudhlah boleh dibuang bila sudah maklum (diketahui)"

Seperti contoh : ketika ada orang bertanya من ضربت؟  siapa yang memukulmu? Kemudian dijawab زيدًا. Lafadz ضربتُ dibuang pada pengucapan lafadz زيدا dikarenakan sudah maklum bahwa yang dimaksud pelaku pemukulan adalah Zaid. 






Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url