Pentingnya Mengaji di Era Digital: Mauidzotul Hasanah Neng Ainun dalam Haul Abah Khusnan Musthofa Ghufron dan Khataman Alfiyah Ibnu Malik

Neng Ainun mengisi Mauidzotul Hasanah di Pondok Pesantren Darul A'mal

Dalam momen yang penuh khidmat dan spiritual, acara Haul Abah Khusnan Musthofa Ghufron yang dirangkaikan dengan Khataman Kitab Alfiyah Ibnu Malik menjadi panggung tersampaikannya nasehat-nasehat penuh hikmah dari Neng Ainun. Dalam Mauidzotul Hasanah yang beliau sampaikan, terdapat pesan-pesan mendalam yang relevan dengan kondisi generasi muda masa kini.

Mengaji di Tengah Derasnya Arus Teknologi

Di awal ceramahnya, Neng Ainun mengangkat fenomena kehidupan remaja saat ini yang banyak disibukkan dengan dunia digital. Beliau menyebut bahwa di tengah pesatnya kemajuan teknologi, masih adanya anak-anak muda yang memilih mengaji di pondok pesantren merupakan sebuah oase luar biasa di padang gersang dunia maya.

Dengan guyonan cerdas yang menyentil realitas, beliau berkata:

“Sekarang ini banyak yang buka Fathul WhatsApp, Kifayatul Instagram, Riyadhotut Twitter, wa Nihayatut TikTok...”

Lelucon ini bukan sekadar mengundang tawa, tapi juga menyadarkan bahwa aktivitas digital yang berlebihan seringkali menggeser semangat menuntut ilmu. Di tengah kondisi seperti itu, munculnya para santri yang mengkhatamkan kitab berat seperti Alfiyah Ibnu Malik menjadi bukti bahwa masih ada generasi yang siap menjaga warisan keilmuan Islam.

Santri Tidak Harus Jadi Kiai, Tapi Harus Bermanfaat

Neng Ainun kemudian menegaskan bahwa tujuan mengaji bukan semata menjadi kiai atau ustaz, tetapi untuk membentuk pribadi yang bermanfaat bagi umat.

“Santri tidak harus jadi kiai, tidak harus jadi ustaz. Yang penting bisa bermanfaat, bisa mengisi posisi strategis seperti dokter, akademisi, dosen, TNI, dan lain sebagainya.”

Dengan ilmu agama yang kuat, para santri dapat menjadi pribadi yang menjaga nilai dan akhlak Islam di manapun mereka berada.

Memahami Nasehat dari Nadzom

Dalam bagian lain ceramahnya, Neng Ainun menyampaikan bahwa walaupun Kitab Alfiyah adalah kitab gramatika Arab (nahwu), namun di dalamnya tersimpan banyak nadzom yang dapat dimaknai sebagai nasehat kehidupan.

Salah satu contohnya adalah nadzom:

"Kalamuna lafdzun mufidun kastaqim"
(Kalam adalah lafadz yang mufid seperti kata 'istaqim')

Neng Ainun mengajak hadirin untuk merenungkan, mengapa Syekh Ibnu Malik memilih contoh kata istaqim?
Karena di balik itu tersimpan pesan:

Istiqomahlah dalam ibadahmu, dalam ketaatanmu, dan dalam belajarmu.”

Ilmu, kata beliau, bukan benda mati. Ilmu adalah makhluk Allah yang memiliki ruh. Ilmu akan memilih kepada siapa dia akan menetap, dan meninggalkan mereka yang tak menjaga dan menghargainya. Maka dari itu, menjaga ilmu bukan hanya dengan menghafal atau membacanya ulang, tetapi juga merawatnya dengan amal dan istiqomah.

Bagaimana Merawat Ilmu?

Neng Ainun mengutip nasihat dari seorang ulama besar, Imam Sufyan Ats-Tsauri, yang mengatakan:

“Tandanya orang yang bersyukur setelah diberi ilmu adalah mengamalkannya, dan tandanya orang yang bersyukur dalam beramal adalah senantiasa menambah ilmunya.”

Pesan ini mengajak setiap pencari ilmu untuk tidak pernah merasa cukup. Bahkan setelah mengkhatamkan kitab seberat Alfiyah, kita jangan sampai berhenti.

Jangan bilang ‘Saya sudah khatam Alfiyah’, tapi katakanlah ‘Saya baru khatam Alfiyah’.

Dengan begitu, khataman Alfiyah bukan menjadi akhir dari perjalanan ilmu, tapi menjadi pondasi awal untuk menjelajahi samudera keilmuan yang lebih luas.


Penutup

Melalui Mauidzotul Hasanah yang penuh makna, Neng Ainun mengingatkan kita semua bahwa mengaji adalah perjalanan jiwa, bukan sekadar rutinitas. Di era di mana dunia sibuk dengan hal-hal yang fana, hadirnya para santri yang tekun mengaji menjadi tanda bahwa cahaya ilmu belum padam. Mari terus menjaga nyala itu, dengan istiqomah, dengan amal, dan dengan haus akan ilmu.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url