Kisah Kematian ‘Alqamah: Saat Istri Lebih Diutamakan daripada Ibu

Ilustrasi kisah 'Alqamah
Di antara kisah yang sering disampaikan para ulama tentang pentingnya berbakti kepada orang tua adalah kisah seorang sahabat bernama ‘Alqamah. Kisah ini sangat menyentuh — karena menunjukkan betapa besarnya pengaruh ridha orang tua, khususnya ibu, terhadap kehidupan dan akhir kehidupan seseorang.

Siapa ‘Alqamah?

‘Alqamah dikenal sebagai sahabat yang rajin beribadah. Ia tekun shalat, gemar berpuasa, dan aktif bersedekah. Secara lahiriah, ia tampak sebagai seorang muslim yang taat. Namun ternyata, ada satu perkara besar yang luput darinya…
Ia lebih mementingkan istrinya daripada ibunya.

Saat Sakaratul Maut Datang

Suatu hari, ‘Alqamah jatuh sakit keras. Kondisinya semakin melemah hingga mendekati sakaratul maut. Para sahabat datang menjenguk dan menuntunnya membaca kalimat tauhid:

“Laa ilaaha illallah…”

Namun anehnya, lisannya tidak mampu mengucapkannya. Padahal ia dikenal sebagai orang yang rajin ibadah. Kabar ini sampai kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun bertanya:

“Apakah ia masih memiliki orang tua?”

Dijawab: “Ya, ia memiliki seorang ibu yang sudah tua.”

Ternyata Ibunya Tidak Ridha

Rasulullah ﷺ memanggil ibunya dan bertanya tentang keadaan ‘Alqamah.

Sang ibu menjawab dengan jujur:

“Wahai Rasulullah, dahulu ia rajin ibadah. Tetapi ia lebih mementingkan istrinya dan sering menyakiti hatiku.”

Inilah sumber masalahnya.
Bukan kurangnya shalat.
Bukan kurangnya puasa.
Tapi karena hati ibunya terluka.

Ujian yang Menggetarkan

Rasulullah ﷺ kemudian berkata (untuk menyadarkan sang ibu):

“Jika engkau tidak memaafkannya, akan kami bakar dia.”

Mendengar itu, hati sang ibu luluh. Ia tidak tega melihat anaknya dalam kebinasaan. Akhirnya ia berkata:

“Ya Rasulullah, aku ridha kepadanya.”

Begitu sang ibu ridha…

Lisan ‘Alqamah tiba-tiba lancar mengucapkan:

“Laa ilaaha illallah.”

Dan tidak lama kemudian ia wafat dalam keadaan tersebut.

Pelajaran Besar dari Kisah Ini

Kisah ini sering dibawakan para ulama sebagai peringatan keras tentang:

1. Ridha Allah tergantung ridha orang tua
    Selama orang tua belum ridha, ada keberkahan yang tertahan.
2. Ibadah banyak tidak cukup jika akhlak kepada orang tua buruk
    Shalat dan puasa penting. Tapi adab kepada ibu lebih utama.
3. Istri bukan alasan untuk durhaka
Mencintai istri itu baik. Tapi jangan sampai membuat ibu tersisih, tersakiti, atau merasa tidak dihargai.

Untuk Kita Semua

Kisah ini bukan untuk membuat kita takut berlebihan. Tapi untuk membuat kita sadar. Kadang kita:

  • Lebih cepat membalas chat pasangan daripada telepon ibu.
  • Lebih membela pasangan daripada mendengar nasihat orang tua.
  • Lebih sensitif pada perasaan pasangan, tapi abai pada perasaan ibu.

Padahal doa ibu itu tembus langit.
Jika hari ini orang tua kita masih hidup — terutama ibu — jangan ditunda untuk:
Minta maaf
Memeluknya
Mengirim kabar
Memberi perhatian

Karena kita tidak tahu… siapa yang akan lebih dulu dipanggil.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url