Mengenang Ibu Nyai Siti Romlah binti Bapak Sumarno

 


Istri Tercinta dari KH. Zainal Abidin (Alm.)

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Dengan penuh rasa duka dan hormat, kami mengabarkan wafatnya Ibu Nyai Siti Romlah binti Bapak Sumarno, istri tercinta dari almarhum KH. Zainal Abidin. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga besar Pondok Pesantren Darul A'mal serta para santri dan masyarakat yang pernah merasakan keberkahan dari keberadaan beliau.

Ibu Nyai Siti Romlah dikenal sebagai sosok yang sederhana, penuh ketulusan, dan mendampingi perjuangan KH. Zainal Abidin dengan penuh keikhlasan. Beliau lebih banyak bergerak dalam kesunyian, menjadi pilar penting yang memperkuat dakwah dan pendidikan pesantren dari balik layar.

Saya pribadi merasa sangat beruntung pernah mendapatkan kesempatan berinteraksi langsung dengan beliau, sebuah pengalaman langka yang membekas hingga kini. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2018, saat saya masih mukim di Pondok Pesantren Darul A'mal. Waktu itu, KH. Zainal Abidin masih hidup, dan seperti kebiasaan, setiap sowan santri lebih banyak berbincang langsung dengan beliau. Bertemu dan berbicara dengan Ibu Nyai Siti Romlah adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Namun dalam satu kesempatan, saya diminta oleh keluarga ndalem untuk mengantarkan Ibu Nyai Siti Romlah pulang dari Darul A'mal ke kediaman beliau. Jaraknya memang tidak jauh, sekitar satu kilometer saja. Dalam perjalanan singkat itu, Allah mentakdirkan saya mendapatkan sedikit cerita sekaligus nasehat dari beliau yang menjadi pelajaran berharga dalam hidup saya.

Dalam perbincangan itu, Ibu Nyai menceritakan tentang kondisi kesehatan KH. Zainal Abidin. Beliau mengatakan bahwa KH. Zainal Abidin sangat jarang sakit, dan sekalipun sakit, hanya penyakit ringan yang cukup disembuhkan dengan minum bodrex. Dengan penuh rasa ingin tahu, saya bertanya tentang rahasia kesehatan beliau. Ibu Nyai Siti Romlah pun menjawab dengan sederhana namun penuh makna:
Setiap kali berwudhu, KH. Zainal Abidin selalu meminum sedikit air dari bak wudhu yang beliau gunakan, mengusapkannya ke leher, sambil membaca surah Al-Qadr.

Saat mendengar itu, saya teringat bahwa amalan ini pernah saya baca dalam kajian kitab fiqh, kemungkinan besar saat mengaji Maraqil ‘Ubudiyah. Sebelumnya, saya memang sudah mendengar dan mencoba mengamalkannya, tetapi karena hanya sekadar membaca dari kitab, keistiqamahan saya masih lemah. Baru setelah mendengar langsung dari Ibu Nyai — seseorang yang telah menyaksikan keberkahan amalan ini dalam kehidupan suaminya — saya mendapatkan keteguhan hati untuk lebih istiqamah mengamalkannya.

Saya ingat betul, dalam salah satu pembahasan fiqh disebutkan bahwa meminum sedikit air bekas wudhu sendiri dapat menjadi wasilah untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit, tentunya dengan izin Allah SWT.

Kini, Ibu Nyai Siti Romlah telah berpulang, menyusul KH. Zainal Abidin yang wafat pada tahun 2021 lalu. Namun, nasehat beliau dan keteladanan yang beliau tinggalkan akan terus hidup di hati kami. Nasehat sederhana namun penuh makna itu menjadi bagian dari perjalanan iman saya, dan insyaAllah menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya untuk beliau.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah Ibu Nyai Siti Romlah, mengampuni segala khilaf beliau, dan menempatkannya di surga tertinggi bersama orang-orang shalihah.
Al-Fatihah untuk beliau.
اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url