Khutbah Jum'at singkat 2 halaman : Hindari Maksiat di Media Sosial
Khutbah I
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، اَلقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: وَلُوطاً إِذْ
قالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ
مِنَ الْعالَمِينَ. أَإِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ
الرِّجالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَما كانَ
جَوابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قالُوا ائْتِنا بِعَذابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
(العنكبوت: ٢٨-٢٩). وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ،
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin sidang
Jumat yang dirahmati Allah!
Marilah kita
senantiasa selalu bertaqwa kepada Allah, dengan menjalankan semua yang
diperintahkan oleh Allah dan menjauhkan dari semua yang dilarang-Nya.
Hadirin jama’ah
jumat rohimakumullah,
Media sosial
adalah fasilitas interaksi manusia di ruang terbuka yang menghubungkan
seseorang dengan orang lain di waktu yang sama, meskipun dengan tempat yang
jauh berbeda. Media sosial seharusnya berfungsi dan digunakan untuk membantu
manusia dalam melakukan interaksi jarak jauh, akan tetapi sering digunakan juga
untuk tujuan yang negatif dengan menyebarkan konten tidak baik yang bermuatan
maksiat seperti mempertontonkan aurat. Para konten kreator seakan bangga dan
tidak merasa malu dengan perilaku tersebut. Perilaku ini memang bukan hal yang
baru dalam peradaban manusia. Dahulu kala, kaum nabi Luth juga telah melakukan
perbuatan keji di ruang terbuka atau tempat perkumpulan mereka. Hal ini diabadikan oleh Allah swt dalam surat
Al-‘Ankabut, ayat 28-29:
وَلُوطاً إِذْ قالَ لِقَوْمِهِ
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِها مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعالَمِينَ. أَإِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجالَ وَتَقْطَعُونَ
السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَما كانَ جَوابَ قَوْمِهِ إِلاَّ
أَنْ قالُوا ائْتِنا بِعَذابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Artinya:
“(Ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar
melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang tidak pernah dilakukan
oleh seorang pun sebelum kamu di alam semesta. Pantaskah kamu mendatangi
laki-laki (untuk melampiaskan syahwat), menyamun, dan mengerjakan kemungkaran
di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka, jawaban kaumnya tidak lain hanyalah
mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah jika engkau termasuk
orang-orang benar!”
Imam Ibnu
Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’anil Azhim, juz 6, halaman 249 menjelaskan
bahwa mereka tidak merasa malu untuk melakukan perbuatan dan ucapan keji di
ruang terbuka atau tempat pertemuan karena tidak ada orang yang mengingkari hal
tersebut, bahkan mereka saling mendukung.
Hadirin sidang
Jumat yang dirahmati Allah! Jika perbuatan keji sudah dianggap menjadi sesuatu
yang biasa, bahkan didukung oleh orang lain, maka pelakunya akan merasa bangga
seperti yang kita saksikan di media sosial saat ini. Para konten kreator
maksiat begitu menikmati dukungan penonton, bahkan mendapatkan keuntungan
materi dari dukungan tersebut, padahal kita sudah diingatkan oleh Nabi akan
bahaya mengumbar perbuatan dosa dengan penuh kebanggaan. Hal ini ditegaskan
Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dalam kitab Shahihul
Bukhari, juz 8, halaman 20:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى
إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ
عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ،
عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ
يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Artinya:
“Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali Mujahirin (yaitu orang yang
terang-terangan berbuat dosa). Termasuk dari perilaku Mujahirin adalah
seseorang yang berbuat dosa di malam hari yang telah ditutupi Allah, kemudian
di pagi hari ia berkata kepada orang lain “Wahai fulan, aku telah melakukan ini
dan itu di malam hari”. Padahal Allah telah menutupi perbuatan dosanya, tetapi
ia mengungkapkan apa yang telah ditutupi Allah.”
Hadirin sidang
Jumat yang dirahmati Allah! Hal ini tidak akan terjadi jika setiap Muslim masih
memiliki rasa malu yang dapat mencegahnya dari melakukan perbuatan dosa,
sehingga rasa malu dianggap sebagai salah satu indikator keimanan seseorang.
Hal ini ditegaskan Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari
dalam kitab Shahihul Bukhari, juz 1, halaman 11:
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ
شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Artinya: “Iman
memiliki 60 sekian cabang. Rasa malu adalah salah satu cabang iman.” Rasa malu
yang dimaksud dalam hadits ini adalah naluri setiap manusia yang mendorongnya
untuk menghindarkan perbuatan yang dapat membuat dirinya tercela. Pada
dasarnya, setiap manusia tidak ingin perbuatan dosanya diketahui oleh orang
lain.
Hadirin sidang
Jumat yang dirahmati Allah! Pemaknaan seperti ini yang sudah berubah di hari
ini. Manusia sudah tidak merasa malu dalam melakukan dan menceritakan perbuatan
dosa. Manusia malah merasa malu untuk melakukan dan menceritakan kebaikan. Saat
ini, kita melihat maksiat lebih banyak dipertontonkan dari pada perbuatan baik.
Hal ini ditegaskan imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam lanjutan penjelasan
hadits di atas:
وَلَا
يُقَالُ رُبَّ حَيَاءٍ يَمْنَعُ عَنْ قَوْلِ الْحَقِّ أَوْ فِعْلِ الْخَيْرِ لِأَنَّ
ذَاكَ لَيْسَ شَرْعِيًّا
Artinya: “Rasa
malu tidak bisa diartikan malu untuk berucap benar dan berbuat baik karena malu
seperti ini bukan rasa malu dalam perspektif agama.”
Hadirin sidang
Jumat yang dirahmati Allah! Semoga Allah menanamkan dan merawat rasa malu yang
ada dalam diri kita semua. Semoga kita semua masih memiliki rasa malu untuk
melakukan perbuatan dosa dan menyebarluaskannya, sehingga kita tergolong
orang-orang yang masih berpeluang mendapatkan ampunan Allah. Amin, ya Rabbal
‘Alamin.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدِنِ ابْنِ عَبدِ الله وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ
المُسلِمُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ
اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُمْ مُّحْسِنُونَ، قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً
وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللهُمَّ
انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فَلِسْطِيْن وَلُبْنَان وَسَائِرَ العَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ
اجْعَلْ بَلْدَتَنَا اِنْدُونِيْسِيَّا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَمُبَارَكَةً وَمُزْدَهِرَةً.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ،
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُم بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا
اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَر
Download khutbah versi pdf dan siap print disini
