Jangan membantah, laksanakan saja perintahnya dan jangan banyak bertanya
Sifat manusia memang banyak sekali karakternya. Dari 10 orang maka terdapat pula macam 10 karakter yang berbeda. Diantaranya adalah sikap suka membangkang atau banyak bertanya. Kita pun pastinya pernah membangkang demi mendapatkan kebenaran. Itu boleh-boleh saja. Namun jangan lupa mengedepankan adab. Sekiranya tidak begitu urgen dan bukan sebuah kebutuhan, untuk apa kita membantah. Laksanakan saja. Karena manusia hidup punya aturan. Kadang di perusahaan ada karyawan yang ditegur tidak boleh bekerja sambil musikan. Apakah hal itu salah secara pribadi? Secara pribadi pastinya tidak ada masalah buat kita. Namun bagi perusahaan ada aturan yang harus dipatuhi. Pastinya banyak maksud didalamnya diantaranya kedisiplinan dan kefokusan dalam bekerja atau apapun yang tidak kita ketahui.
Apalagi membangkang dalam perintah agama. Jangan sampai kita seperti Bani Israil yang diperintah Nabi Musa untuk mencari sapi. Namun bukannya mencari malah selalu membantah. Saya kutip sedikit kisahnya.
Dulu, ada seorang hartawan yang sangat kaya raya. Namun dia tidak memiliki ahli waris. Sehingga hartanya akan dimiliki oleh kerabatnya. Hal yang ditunggu pun terjadi, sang hartawan ditemukan tewas di depan sebuah rumah penduduk. Kerabat sang hartawanlah yang pertama kali menemukan mayatnya dipagi hari. Maka gemparlah sepuruh desa atas kematian sang hartawan. Akhirnya pada saling bertanya, siapa sebenarnya yang membunuh sang hartawan?
Akhirnya asumsi-asumsi pun bermunculan. Ada yang mengatakan sang kerabat yang menemukanlah yang membunuhnya. Yang lain mengatakan, si pemilik rumah yang didepannya ditemukan jasad si hartawanlah pelaku pembunuhnya.
Ditengah keributan tersebut, datang seorang yang cerdas. Ia pun menengahi warga. "Mengapa kalian berkelahi? Bukankan di antara kita ada Musa sang utusan Allah? Mari kita tanyakan kepadanya" Ujarnya.
Mendengar kisah dari penduduk desa, Nabi Musa berdoa. Memohon wahyu dari Allah agar menunjukkan rahasia di balik kematian sang hartawan. Maka, Allah pun memerintahkan Musa agar menyuruh umatnya itu menyembelih seekor sapi.
"Hai Musa, Apakah kamu ingin menjadikan kami bahan ejekan?" Ujar mereka.
Orang-orang tersinggung Sebab mereka dahulu sempat menyembah patung sapi betina dan kini Musa menyatakan bahwa Allah menyuruh mereka untuk menyembelih sapi.
Nabi Musa pun dengan sabar menjawab " Aku berlindung dari Allah agar aku tak termasuk orang-orang yang bodoh. Aku pelindung kepada Allah untuk tidak mengatakan sesuatu yang bukan firman-Nya".
Namun tetap saja pada Israel tidak mau menaati perintah Nabi Musa. Mereka bermalas-malasan menyembelih seekor sapi. Pasalnya, sapi merupakan binatang yang dihormati oleh mereka.
Saat warga menunda-nunda mencari sapi, Nabi Musa menagih dengan menanyakan sapi yang diperintahkan oleh Allah. Namun mereka malah menjawab "beri kami spesifikasi, Berapa usia sapi itu?" kata mereka.
"Tidak muda, tidak pula tua, melainkan pertengahan saja. Kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepada kalian." Jawab Nabi Musa
Namun setelah itu mereka bukannya mencari justru masih bermalas-malasan mencari sapinya Sampai Akhirnya Nabi Musa menanyakan kembali perihal sapi tersebut Namun justru mereka malah bertanya "Apa warna sapi itu?"
Dengan sabar Nabi Musa menjawab "warnanya kuning tua. setiap orang memandangnya maka akan merasa senang."
Bukannya mencari keesokan harinya mereka malah bertanya lagi "beritahu kami, bagaimana kondisi sapi itu sehingga kami dapat mencarinya?".
Akhirnya kesabaran Nabi Musa diuji beliau akhirnya menjawab dengan rinci yang sangat banyak "sapi itu tidak pernah digunakan untuk membajak sawah atau memberi air bagi tanaman. Sapi itu pun sangat bersih, tidak memiliki cacat."
Semakin banyak bertanya jelas membuat mereka semakin sulit mendapatkan sapi yang dimaksud oleh Allah SWT. Andai saja mereka Langsung menurut saja perintah yang pertama mereka akan bebas memilih sapi manapun.
Namun sifat membangkang justru membuat mereka semakin sulit.
Setelah kesulitan yang sangat sulit mencari sapi tersebut akhirnya mereka mendapatkannya. Sapi itu milik seorang yatim yang usianya masih belia. Akhirnya sampai tersebut di datangkan ke Nabi Musa untuk disembelih.
Setelah disembelih, Nabi Musa mengambil sebagian anggota tubuh sapi, Kemudian memukulnya pada jenazah sang hartawan.
Dengan izin Allah, mayat si Hartawan hidup kembali. Nabi Musa pun segera bertanya kepada mayat hidup tersebut. "siapakah yang telah membunuhmu?"
Sang Hartawan pun menunjuk kerabatnya "Dia!" Ujarnya. Setelah itu, si hartawan menjadi mayat lagi atas izin Allah.
Ternyata sang pembunuh merupakan kerabat yang selalu menginginkan warisan sang Hartawan. Dia pula yang berpura-pura menemukan mayat sang Hartawan yang dia bunuh dan diletakkan di depan salah satu rumah penduduk desa.
Kisah ini bisa dibaca pada QS. Al baqarah ayat 67-73.
Dari kisah diatas dapat diambil pelajaran bahwa pentingnya untuk melaksanakan perintah tanpa membantah dan bertanya. Laksanakan saja apa yang diperintahkan.
Begitu juga bagi seorang anak melaksanakan perintah kedua orang tuanya. Murid melaksanakan perintah gurunya. Tanpa membantah, tanpa bertanya. Karena orang tua maupun guru melarang bukan untuk menghinakan kita, tapi demi kebaikan kita.
Salam