Belajar Ikhbar bil ladzi wal alifi wallami (Ikhbar Billadzi dan Ikhbar bil AL)

Bab Ikhbar Alfiyah Ibnu Malik

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Pada kali ini penjelasan mengenai Ikhbar (cara membuat khobar) menggunakan isim maushul dan AL. Sebenarnya ikhbar itu mudah, hanya memindah-mindah lafadz saja, namun pada intinya maknanya adalah sama. Misal saya bilang "Saya menolong kucing di pasar". Kemudian saya rubah susunan katanya menjadi " Hewan yang saya tolong di pasar adalah seekor kucing". Maknanya sama saja bukan? Untuk lebih jelasnya, akan saya jabarkan teorinya dari kitab Alfiyah Ibnu Malik.
Namun pada artikel ini, tidak semua lafadz arab saya beri harokat, guna sekaligus latihan dalam mempraktikkan ilmu nahwunya.

Nadzom bab ikhbar ke 1-3

ماقيل اخبر عنه بالذي خبر # عن الذي مبتداء قبل استقر
وما سوى هما فوسطه صلة # عائدها خلف معطى التكملة
 نحو الذي ضربته زيد فذا # ضربت زيدا كان فادر المأخذ

"Bila ada isim yang ada pada jumlah akan dijadikan khobar dari mubtada' الذي maka isim wajib di akhirkan dan silahnya diletakkan di tengah-tengah antara mubtada' khobar yang mempunyai 'aid sebagai ganti lafadz yang dijadikan khobar. 

Cara membuat ikhbar dari mubtada' yang berbentuk isim mausul adalah :
1. Letakkan isim maushul di awal dan dijadikan mubtada'
2. Isim yang akan dijadikan khobar diletakkan paling akhir
3. Silahnya maushul diletakkan di tengah-tengah antara isim maushul dan lafadz yang dijadikan khobar
4. Dhomir 'aid (dhomir yang kembali kepada isim maushul) dijadikan pengganti dari isim yang dijadikan khobar.

Contoh :
Buatlah ikhbar lafadz زيدٌ pada lafadz ضربْتُ زيدا (saya memukul zaid)
Jawab :
الذي ضربْتُهُ زيدٌ (Seseorang yang telah saya pukul adalah Zaid)

Nadzom bab ikhbar ke 4

وبالذَيْنِ والذِينَ والتى # اخبر مراعيا وفاق المثبت
"Membuat khobar harus sesuai atau cocok dengan lafadz yang ditetapkan menjadi khobar"

Maksudnya harus sesuai dalam mufrod, tasniyah dan jamaknya.
Semisal ada soalnya :
 بَلَّغَ الزَّيدَانِ العمرِينَ رسالةً 
(Dua orang Zaid menyampaikan surat kepada beberapa 'Amr)
Jawab :
A. Ketika yang akan dijadikan khobar adalah lafadz الزَّيدَانِ, maka menjadi :
اللّذانِ بَلَّغَا العمرِينَ رسالةً الزَّيدَانِ
(Dua orang yang menyampaikan surat kepada beberapa 'Amr adalah dua orang Zaid)

Perhatikan :
1. Isim maushul menggunakan اللّذانِ dikarenakan khobarnya berbentuk isim tasniyah, yakni الزَّيدَانِ
2. Lafadz بَلَّغَا, yang mulanya adalah بَلَّغَ (tanpa ada alif tasniyah) berubah menjadi بَلَّغَا dikarenakan menjadi dhomir 'aid (dhomir yang kembali kepada isim maushul) dan isim maushulnya berupa isim tasniyah. Perubahan lafadz بَلَّغَا ini bisa diperhatikan di kitab tasrif lughowi.
3. Lafadz yang akan dijadikan khobar harus diletakkan di akhir yakni lafadz الزَّيدَانِ

B. Ketika yang akan dijadikan khobar adalah lafadz الْعَمْرِيْنَ, maka menjadi :
الَّذِيْنَ بَلَّغَهُمْ الزَّيدَانِ رسالةً العمرُوْنَ
(Orang-orang yang mana dua orang zaid menyampaikan suratnya kepada orang-orang tersebut adalah beberapa 'Amr)

Perhatikan :
1. Isim maushul menggunakan الَّذِيْنَ dikarenakan khobarnya berbentuk jamak mudzakar salim, yakni العمرُوْنَ 
2. Setelah lafadz بَلَّغَ ditambahkan dhomir mahal nasob (هُمْ) yang menjadi dhomir 'aid nya isim maushul الَّذِيْنَ
3. Lafadz yang akan dijadikan khobar harus diletakkan di akhir yakni lafadz العمرُوْنَ 
4. Lafadz العمرِينَ yang mulanya menjadi maf'ul bih dibaca nashob ditandai dengan ya' menempat pada jamak mudzakar salim, ketika dijadikan khobar maka berubah menjadi i'rob rofa' ditandai dengan wawu menempat pada jamak mudzakar salim.

C. Ketika yang akan dijadikan khobar adalah lafadz رسالة, maka menjadi :
الَّتِي بَلَّغَهَا الزَّيدَانِ العمرِينَ رسالةٌ
(Sesuatu yang mana dua orang zaid menyampaikannya kepada beberapa 'Amr adalah sebuah surat)

Perhatikan :
1. Isim maushul menggunakan الَّتِي dikarenakan khobarnya berbentuk mufrod muannas, yakni رسالةٌ
2. Setelah lafadz بَلَّغَ ditambahkan dhomir mahal nasob (هَا) yang menjadi dhomir 'aid nya isim maushul الَّتِي
3. Lafadz yang akan dijadikan khobar harus diletakkan di akhir yakni lafadz رسالةٌ, dan kebetulan pada soal lafadz ini memang sudah berada di akhir.
 4. Lafadz رسالةً yang mulanya menjadi maf'ul bih dibaca nashob ditandai dengan fathah menempat pada isim mufrod, ketika dijadikan khobar maka berubah menjadi i'rob rofa' ditandai dengan dhomah menempat pada isim mufrod.

Nadzom bab ikhbar ke 5-6

قبول تأخير وتعريف لما # اخبر عنه ههنا قد حتما
كذا الغنى عنه باجنبي او # بمضمر شرط فراع ما رعوا

"Syarat-syarat ikhbar : (1) Menerima diakhirkan (2) dimakrifatkan (3) Bisa diganti lafadz lain (4) bisa diganti dhomir (5) bisa dibaca rofa' (6) Bisa dijadikan kalam itsbat. (7) Harus terdiri dari jumlah khobariyah / kalam khobar (8) Tidak dari jumlah yang menyendiri (9) Bisa berfaidah."

Ada beberapa syarat agar lafadz bisa dijadikan khobar, diantaranya :
1. Menerima diakhirkan 
Adapun lafadz-lafadz yang tidak bisa diletakkan di akhir maka tidak bisa dijadikan khobar seperti lafadz اَيُّهُمْ pada kalimat اَيُّهُمْ فى الدَّارِ dan juga seperti isim istifham, isim syarat, كَمْ khobariyah dan مَا ta'ajub.

2. Menerima untuk di makrifatkan
Maka tidak diperkenankan membuat khobar dari lafadz-lafadz yang berkedudukan menjadi khal dan juga tamyiz, karena dua lafadz tersebut wajib nakiroh.

3. Menerima untuk diganti dengan lafadz lain
Maka tidak diperkenankan membuat khobar dari isim dhomir yang menjadi penghubung dari jumlah yang menjadi khobar. Seperti huruf ha' pada lafadz زَيْدٌ ضَرَبْتُهُ. Kalau tetap dipaksa dijadikan khobar maka akan menjadi الَّذِى زَيْدٌ ضَرَبْتُهُ هُوَ huruf ha' pada lafadz ضَرَبْتُهُ akan tetap ada dan khobarnya akan menjadi munfasil yakni lafadz هُوَ namun itupun ruju'nya kembali pada lafadz زَيْدٌ bukan kembali pada dhomir pada lafadz ضَرَبْتُهُ dan ini tidak mungkin bisa.

4. Menerima untuk diganti dengan isim dhomir
Maka dikecualikan lafadz-lafadz yang di jer kan dengan huruf حَتَّى, مُذْ, مُنْذُ dikarenakan lafadz-lafadz yang dijerkan dengan lafadz-lafadz ini wajib isim dzhohir, tidak boleh isim dhomir. Begitu juga lafadz-lafadz yang dimudhofkan tanpa mengikutkan mudhof ilaih-nya. seperti kalimat ضَرَبْتُ غُلَامَ زَيْدٍ dibuat ikhbar menjadi الذى ضَرَبْتُهُ زَىْدٍ غُلَامٌ (Ini tidak diperkenankan).

5. Menerima untuk dirofa'kan
Maka tidak diperkenankan membuat khobar dari lafadz-lafadz yang wajib di nashobkan seperti lafadz سُبْحَانَ dan عِنْدَ 

6. Menerima untuk dijadikan kalam istbat (kalimat positif)
Maka tidak diperkenankan membuat khobar dari lafadz اَحَدٌ (Seseorang), دَيَّارٌ (rumah-rumah), عَرِيْبٌ (kosong) supaya ketiga lafadz ini tidak keluar dari ketegori lafadz yang diwajibkan penggunaannya didalam kalam nafi (kalimat negatif)

7. Harus berupa kalam khobar
Maka tidak diperkenankan membuat khobar dari kalam tholab seperti kalam amr (perintah), kalam do'a dan lain-lain yang mana kalam tholab itu ada 9 dan tidak saya bahas disini.

8. Hendaknya tidak membuat khobar dari salah satu dari dua jumlah yang tersendiri.
Seperti قَامَ زَيْدٌ وَقَعَدَ عَمْرٌو (zaid berdiri dan amr duduk)

9. Bisa memiliki faidah
Maka tidak diperkenankan membuat khobar dari isim yang tidak memiliki makna di dalamnya seperti lafadz-lafadz yang menjadi nama belakang seperti Bakar pada nama Abu Bakar. 

Nadzom bab ikhbar ke 7

واخبروا هنا بال عن بعض ما # يكون فيه الفعل قد تقدم
"Isim bisa dibuat khobar dari mubtada' Al bila terdiri dari jumlah fi'liyah"

Nah, pada kali ini kita masuk ke pembahasan ikhbar bi al. Adapun sebelumnya istilahnya adalah ikhbar bil ladzi (membuat ikhbar dengan isim maushul).

Adapun syarat membuat ikhbar dari Al adalah sebagai berikut :
1. Harus berada pada jumlah fi'liyah
2. Hendaknya fi'ilnya muttasofir (bisa ditasrif)
3. Harus berupa kalam mustbat (kalimat positif) 
Maka tidak boleh menjadikan khobar lafadz زَيْدٌ pada kalimat زَيْدٌ اَخُوْكَ atau dari kalimat مَاقامَ زَيْدٌ (didahului nafi)

Nadzom bab ikhbar ke 8

ان صح صوغ صلة منه لال # كصوغ واق من وقى الله البطل
"Dan fi'ilnya patut dijadikan sifat / silahnya Al yakni dari fi'il muttasorif"

Maka tidak diperkenankan membuat ikhbar bi Al dari isim jamid (tidak bisa di tasrif) dan kalimat nafi (kalimat negatif). Maka pada contoh soal kalimat وَقَى اللهُ الْبَطَلَ jika akan dijadikan ikhbar bi Al maka menjadi :
1. الوَاقِى البطَلَ اللهُ  (Fa'il atau lafadz Allah dijadikan khobar)

ikhbar bi Al nomor 1

2. الوَاقِى اللهُ البطلُ (Maf'ul atau lafadz Al batola dijadikan khobar)


Pada jawaban nomor 2 tidak boleh membuang huruf ha' pada lafadz الواقيه karena dhomir 'aid Al tidak boleh dibuang dan wajib ada kecuali dhorurot seperti pada syi'ir-syi'ir.

Nadzom bab ikhbar ke 9

وان يكن مارفعت صلة ال # ضمير غيرها ابين وانفصل
"Bila silahnya merofa'kan dhomir yang kembali pada Al, maka dhomir wajib disimpan (mustatir). Dan bila silahnya merofa'kan dhomir yang tidak kembali kepada Al maka wajib di munfasilkan / ditampakkan"

Langsung saja kita buat contoh cara membuat ikhbar bi Al. Contoh soalnya adalah 

بَلَّغْتُ مِنْ اَخَوَيْكَ اِلَى الزَّيْدِيْنَ رِسِالَةً

A. Dhomir تُ pada lafadz بَلَّغْتُ yang akan dijadikan khobar. Langkahnya :
  1. Fi'il dijadikan isim fa'il dan diberi Al, menjadi المُبَلِّغُ (lihat tasrif istilah bab tsulasi mazid bi tasydidil 'ain). Adapun dhomir 'aidnya Al wajib di sembunyikan (mustatir).
  2. Dhomir تُ dimunfasilakan dan diletakkan di akhir menjadi lafadz اَنَا
  3. Untuk lafadz-lafadz lainnya ditetapkan, maka menjadi 
المُبَلِّغُ مِنْ اَخَوَيْكَ اِلَى الزَّيْدِيْنَ رِسِالَةً اَنَا

B. Sekarang yang akan kita jadikan khobar adalah lafadz اَخَوَيْكَ. Langkahnya :
  1. Fi'il dijadikan isim fa'il dan diberi Al, menjadi المُبَلِّغُ (lihat tasrif istilah bab tsulasi mazid bi tasydidil 'ain). Adapun dhomir 'aidnya Al wajib di munfasolkan (ditampakkan). menjadi المُبَلِّغُ اَنَا
  2. Kemudian lafadz اَخَوَيْكَ dijadikan khobar dan diletakkan di akhir. maka i'robnya juga wajib berubah menjadi i'rob rofa' ditandai alif dan menempat pada isim tasniyah, menjadi اَخَوَاكَ 
  3. Huruf jer min lafad مِنْ اَخَوَيْكَ mengejerkan dhomir yang sesuai dengan khobar, yakni هُمَا. Menjadi مِنْهُمَا
  4. Untuk lafadz-lafadz lainnya ditetapkan, maka menjadi 
 المُبَلِّغُ اَنَا مِنْهُمَا اِلَى الزَّيْدِيْنَ رِسِالَةً اَخَوَاكَ
C. Sekarang yang akan kita jadikan khobar adalah lafadz الزَّيْدِيْنَ. Langkahnya :
  1. Fi'il dijadikan isim fa'il dan diberi Al, menjadi المُبَلِّغُ (lihat tasrif istilah bab tsulasi mazid bi tasydidil 'ain). Adapun dhomir 'aidnya Al wajib di munfasolkan (ditampakkan). menjadi المُبَلِّغُ اَنَا
  2. Kemudian lafadz الزَّيْدِيْنَ dijadikan khobar dan diletakkan di akhir. maka i'robnya juga wajib berubah menjadi i'rob rofa' ditandai wawu dan menempat pada jamak mudzakar salim, menjadi الزَّيْدُوْنَ
  3. Huruf jer ila lafadz اِلَى الزَّيْدِيْنَ mengejerkan yang sesuai dengan khobar, yakni هُمْ. Menjadi اِلَيْهِمْ
  4. Untuk lafadz-lafadz lainnya ditetapkan, maka menjadi 
 المُبَلِّغُ اَنَا مِنْ اَخَوَيْكَ اِلَيْهِمْ رِسِالَةً الزَّيْدُوْنَ

D. Sekarang yang akan kita jadikan khobar adalah lafadz رِسِالَةً. Langkahnya :
  1. Fi'il dijadikan isim fa'il dan diberi Al, menjadi المُبَلِّغُ (lihat tasrif istilah bab tsulasi mazid bi tasydidil 'ain). Adapun dhomir 'aidnya Al wajib di munfasolkan (ditampakkan). menjadi المُبَلِّغُ اَنَا
  2. Kemudian lafadz رِسِالَةً dijadikan khobar dan diletakkan di akhir. Kebetulan pada soal juga sudah terletak di akhir. Namun i'robnya wajib berubah menjadi i'rob rofa' ditandai dhomah dan menempat pada isim mufrod, menjadi رِسِالَةٌ
  3. Untuk lafadz-lafadz lainnya ditetapkan, maka menjadi 
المُبَلِّغُ اَنَا مِنْ اَخَوَيْكَ اِلَى الزَّيْدِيْنَ رِسِالَةٌ

Nah, sudah selesai pembahasan ikhbar billadzi dan ikhbar bi al, mudah bukan? jika ada yg ditanyakan atau kritik dan saran bisa sampaikan di kolom komentar ya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url