Bab Maf'ul Mutlak (Alfiyah Ibnu Malik)
Assalamualaikum Wr. Wb
Pada kali ini saya akan menjelaskan tentang maf'ul mutlak yang ada pada kitab Alfiyah ibnu Malik. Jika terdapat kesalahan penjelasan ataupun penulisan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan saya dengan senang hati menerima pembenahannya.
Ya perlu kita ketahui, bahwasanya Maf'ul itu ada lima. Diantaranya Maf'ul bih (dijelaskan pada bab fiil muta'adi dan fi'il lazim), maf'ul mutlaq, maf'ul lah, maf'ul fih dan maf'ul ma'ah.
Pada kali ini akan dijelaskan tentang maf'ul mutlaq.
Maf'ul mutlak bukanlah khobar. Melainkan masdar yang dibaca nasob yang berfungsi adakalanya untuk mentaukidkan amilnya seperti ضَرَبْتُ ضَرْبًا (saya memukul dengan pukulan sesungguhnya), mentaukidkan macamnya seperti ضَرَبْتُ ضَرْبًا شَدِيْدًا (saya memukul dengan pukulan yang kuat) atau mentaukidkan jumlah bilangannya seperti ضَرَبْتُ ضَرْبَتَيْنِ (saya memukul sebanyak 2 pukulan).
المصدر اسم ماسوى الزمان من # مدلولى الفعل كأمن من امن
"Masdar adalah isim yang menjadi nama madlulnya fi'il selain zaman"
Maksud dari madlulnya fi'il yakni hadats (pekerjaan) dan zaman (waktu). Adapun jika ditinjau dari segi waktu seperti lafadz قام menunjukkan makna berdiri pada zaman madhi (lampau). يقوم menunjukkan makna berdiri pada zaman khal (masa sekarang) dan istiqbal (masa akan datang). Dan lafadz قم menunjukkan makna berdiri pada zaman istiqbal (akan datang).
Sedangkan lafadz قيام (berdiri) menunjukkan makna pekerjaan, yang mana makna pekerjaan tersebut menjadi salah satu madlulnya fi'il (yang dijadikan dalil) yakni berupa masdar.
Dinamakan maf'ul mutlaq dikarenakan kebenarannya maf'ul terhadap masdar tanpa adanya qoyyid (batas) dengan menggunakan huruf jer ataupun lainnya. Berbeda dengan maf'ul lainnya yang tidak bisa jatuh kecuali harus adanya qoyyid, seperti maf'ul bih, maf'ul fih, maf'ul ma'ah dan maf'ul lah.
بمثله او فعل او وصف نصب # وكونه اصلا لهذين انتخب
" Masdar biasa dinasabkan dengan sesama Masdar, fi'il atau Isim sifat".
Contoh dinasobkan oleh sesama masdar :
فان جهنَّم جزاؤُكُم جزاءً موفورًا
Pada lafadz جزاءً dinasobkan oleh sesama masdar yakni lafadz جزاءُكم
يعجبنى ايمانُك تصديقًا
Pada lafadz تصديقًا dinasobkan oleh sesama masdar yakni lafadz ايمانُك.
Contoh dinasobkan oleh fi'il :
وكلّم الله موسى تكليمًا
Pada lafadz تكليمًا dinasobkan oleh kalimat fi'il yakni lafadz كلّم
Contoh dinasobkan oleh isim sifat :
والذاريات ذروًا والصّافّات صفًا
Pada lafadz ذروًا dinasobkan oleh isim sifat yakni والذاريات
Dan pada lafadz صفًا dinasobkan oleh isim sifat والصّافّات.
توكيدا او نوعا يبين او عدد # كسرت سيرتين سيرذى رشد
"Masdar bila menjadi maf'ul mutlaq maka berfaidah taukid (menguatkan), nau' (macamnya) dan 'adad (hitungan).
Maf'ul mutlak memiliki 3 faedah diantaranya:
1. Taukid (menguatkan)
Contoh : سرتُ سيرًا (saya berjalan dengan berjalan sesungguhnya)
2. Menjelaskan macamnya
Contoh : سرتُ سيرَ ذى رشد (saya berjalan seperti berjalannya orang yang memiliki kecerdasan)
3. Menjelaskan hitungan
Contoh : سرتُ سيرتينِ (saya berjalan dengan 2 perjalanan)
وقد ينوب عنه ما عليه دل # كجد كل الجد وافرح الجذل
"Isim yang bisa menunjukkan maknanya masdar boleh dibaca nasob menjadi maf'ul mutlaq"
Yakni ada 16 macam dan yang 13 merupakan menjelaskan macamnya masdar. 16 tersebut diantaranya :
1. Makna keseluruhan
Contoh : فلا تميلُ كلَّ الميل (Engkau jangan berbuat condong dengan keseluruhan condong)
Lafadz كلَّ menjadi masdarnya lafadz تميلُ karena menunjukkan maknanya masdar secara keseluruhan.
2. Makna sebagian
Contoh : ضربتُ بعضَ الضربِ (saya memukul dengan sebagian pukulan)
Lafadz بعضَ menjadi masdar dari lafadz ضربتُ
3. Makna macamnya masdar
Contoh : رجع القهقرَى (kembali dengan cara mundur)
Lafadz القهقرَى menjadi masdar dari lafadz رجع
4. Makna sifatnya masdar
Contoh : سرتُ احسنَ السيرِ (saya berjalan dengan sebaik-baik berjalan)
Lafadz احسنَ menjadi masdarnya lafadz سرتُ
5. Makna tingkahnya masdar
Contoh : يموت الكافرُ ميتةَ سوءٍ (orang kafir mati dengan keadaan buruk)
Lafadz ميتةَ menjadi masdar dari lafadz يموت
6. Makna persamaan dengan masdar
Contoh : قمتُ الوقوفَ (saya berdiri dengan berdiri sesungguhnya)
Lafadz الوقوفَ menjadi masdarnya lafadz قمتُ namun lafadz قمتُ dan الوقوفَ sama-sama memiliki makna berdiri
7. Dhomirnya masdar
Contoh : عبدَالله اظنُّهُ جالسًا (Kepada Abdullah, saya menyangkanya adalah seorang yang berdiri)
Dhomir hu pada lafadz اظنُّهُ menjadi masdar dari lafadz عبدَالله
8. Isyarohnya masdar
Contoh : ضربتُهُ ذالك الضربَ (saya memukulnya dengan pukulan tersebut)
Lafadz ذالك menjadi masdar dari lafadz ضربتُهُ
9. Makna waktunya masdar
Contoh :
الم تغتمد عيناك ليلة ارمدا # وعادكماعادالسليم مسهدا
"Bukankah kamu memejamkan mata dengan seperti pejamnya orang yang sakit mata? Dan kalian berdua kembali dengan Sulaim dalam keadaan membuka mata".
Lafadz ليلة menjadi masdarnya lafadz تغتمد
10. Masdar berbentuk ما istifham
Contoh :
ما تضرب زيدًا (Dengan pukulan yang bagaimana kepada Zaid?)
11. Masdar berbentuk ما syartiyah
Contoh : ماشئتَ فاجلسْ (Dengan bagaimanapun kamu ingin, maka duduklah)
12. Makna alatnya masdar
Contoh : ضربتُهُ سوطًا (saya memukul dengan cambuk)
Lafadz سوطًا menjadi masdarnya lafadz ضربتُهُ
13. Makna bilangannya masdar
Contoh :
فاجلدوهم ثمانينَ جلدةً (Maka rajamlah dengan sebanyak 80 rajam)
Lafadz ثمانينَ menjadi masdarnya lafadz فاجلدوهم
Kemudian yang 3 terakhir menggantikan masdar secara mentaukidi
14. Makna persamaannya masdar
Contoh : شناتُهُ بُغْضًا (saya membencinya dengan sebenar-benarnya benci)
Lafadz بُغْضًا menjadi masdarnya lafadz شناتُهُ namun kedua lafadz tersebut memiliki makna tunggal.
15. Makna bertemunya masdar di dalam asal mula
Contoh : والله انبتكم من الارض نباتًا (Dan Allah menumbuhkan dari bumi dengan menumbuhkan yang sesungguhnya)
Lafadz نباتًا menjadi masdarnya lafadz انبتكم
16. Masdar berupa isim masdar
Contoh : توضأ وضوأً (wudhu dengan sebenar-benarnya wudhu)
Jadi dikatakan isim masdar karena bentuk kalimat masdar tidak sama dengan fi'ilnya. Fiilnya menggunakan wazan تَفَعَّلَ menjadi توضّأَ dan masdarnya menggunakan wazan فَعْلًا menjadi وضوءًا (sima'i).
وما لتوكيد فوحّد ابدا # وثنّ واجمع غيره وافردا
"Masdar taukid wajib dimufrodkan, sedangkan yang lain boleh di tasniyahkan dan di jamakkan"
Tidak diperbolehkan mentasniyahkan ataupun menjamakkan masdar taukid melainkan hanya mufrod. Seperti ضربْتُ ضرْبًا hal ini dikarenakan karena tugas dari masdar taukid adalah mentaukidi fi'ilnya dengan cara diulangi dalam pengucapannya dan sedangkan fi'ilnya pun tidak ditasniyahkan ataupun di jamakkan. Namun jika bukan masdar taukid, yakni masdar nau' dan masdar 'adad, maka boleh ditasniyahkan ataupun dijamakkan. Contoh :
ضربْتُهُ ضَرْبَتَيْنِ (Saya memukulnya dengan sebanyak dua pukulan)
سِرْتُ سَيْرَيْ زَيْدٍ (Saya berjalan dengan seperti kedua jalannya zaid)
والحذف عامل المؤكد امتنع # وفي سواه لدليل متسع
"Dilarang membuang amilnya masdar taukid, sedangkan masdar lainnya diperbolehkan".
Amilnya masdar taukid tidak boleh dibuang alasannya karena masdar taukid mentaukidi amilnya dan meneguhkan maknanya amil. Maka hal tersebut tidak dimungkinkan untuk dibuang. Namun untuk masdar yang lain diperbolehkan, seperti ucapan مَاضَرَبْتَ (Kamu tidak memukul) kemudian dijawab
بَلَى ضَرْبًا مُؤَلِّمًا (ya, saya memukulnya dengan pukulan yang menyakitkan) atau dijawab
بَلَى ضَرْبتَيْنِ (ya, saya memukulnya dengan dua kali pukulan)
Contoh lain :
Seperti ucapan penyambutan kedatangan seseorang dengan berucap قدومًا مباركًا (Semoga kamu datang dengan datang yang membawa keberkahan) Jika ditampakkan amilnya adalah قدمْتَ قدومًا مباركًا
Contoh lain :
Seperti ucapan orang yang akan berangkat atau pulang haji dengan berucap حجًا مبْرورًا (Semoga kamu haji dengan haji yang mabrur) Jika ditampakkan amilnya adalah حججْتَ حجًا مبْرورًا
Pada contoh-contoh diatas pembuangan amil diperbolehkan karena sudah ada tujuan yang jelas terhadap amil.
والحذف حتم مع ات بدلا # من فعله كندلا الذ كاندلا
"Masdar yang menggantikan fi'il, amil wajib dibuang"
Masdar yang menggantikan f'il, amil wajib dibuang karena tidak boleh mengumpulkan badal dan mubdal minhu. Adapun badal terbagi menjadi dua bagian yakni :
- Masdar yang berada pada kalam tolab
- Masdar yang jatuh pada kalam khabar
1. Masdar yang berada pada kalam tolab
Yaitu masdar yang berada pada Amr atau nahi atau lainnya seperti pada kalam amr lafadz قيامًا لا قعودًا (Berdirilah dengan berdiri yang sebenarnya dan jangan duduk dengan duduk yang sebenarnya) asal kalimat ini adalah قُمْ قيامًا لاتقعدْ قعودًا.
Contoh pada kalam do'a سَقْيًا لَكَ (Semoga Allah memberikanmu hujan dengan hujan yang sesungguhnya)
asalnya adalah اسقاك الله سَقْيًا لَكَ
2. Masdar yang berada pada kalam khobar
yaitu masdar yang ada pada kalam khobar. Contohnya ucapan حمدًا وَشكْرًا (saya memuji Allah dan saya bersyukur kepadaNya) asalnya adalah احمدُاللهَ واشكرُهُ
وما لتفصيل كاما منّا # عامله يحذف حيث عنّا
"Wajib membuang amil bila masdar jatuh setelah امّا لتفصيل (Imma yang berfaidah mentafsil)"
Yakni wajib membuang amil bila masdar jatuh setelah lafadz اِمَّا yang bermakna mentafsil.
Contoh : فَشُدُّوْا الوَثَاقَ فَاِمَّامَنًّا بَعدُ وَاِمَّا فِدَاءً
Contoh : فَشُدُّوْا الوَثَاقَ فَاِمَّامَنًّا بَعدُ وَاِمَّا فِدَاءً
Pada contoh di atas lafadz مَنًّا dan فدَاءً adalah masdar. Dikarenakan jatuh setelah اِمَّا, maka amil wajib dibuang. Jika ditampakkan (wallahu 'alam) فَاِمَّا تَمْنُوْنَ مَنًّا بَعدُ وَاِمَّا تُفْدُوْنَ فِدَاءً
كـذا مكرر وذوحصر ورد # نائب فعل لاسم عين استند
"Dan begitu juga apabila masdar diulang-ulang atau di hasr (diringkas) dengan perabot اِنَّ atau اِنَّمَا"
Begitu juga amilnya masdar wajib dibuang apabila masdar diulang-ulang seperti,
Contoh : اَنْتَ سَيْرًا سَيْرًا asalnya adalah اَنْتَ يَسِيْرُسَيْرًا
dan juga wajib membuang amilnya masdar apabila di hasr, seperti,
Contoh : وَمَا اَنْتَ اِلَّا سَيْرًا asalnya adalah وَمَا اَنْتَ اِلَّا يَسِيْرُ سَيْرًا
Contoh lain : اِنَّمَا اَنْتَ سَيْرًا asalnya adalah اِنَّمَا اَنْتَ يَسِيْرُ سَيْرًا
Contoh lain : اِنَّمَا اَنْتَ سَيْرًا asalnya adalah اِنَّمَا اَنْتَ يَسِيْرُ سَيْرًا
Namun apabila masdar tidak di ulang-ulang atau di hasr, maka boleh disimpan, boleh juga di tampakkan. Seperti : اَنْتَ سَيْرًا atau boleh juga اَنْتَ تَسِيْرُ سَيْرًا
Dikecualikan apabila isimnya berupa isim makna, bukan isim 'ain. Maka masdar wajib dibaca rofa'
Contoh : اَمْرُكَ سَيْرٌ سَيْرٌ
Catatan :
Isim makna = Isim yang maknanya berupa pekerjaan seperti الضرب , المشي
Isim 'Ain = Isim yang maknanya berupa benda yang bisa dilihat mata seperti lafadz زيد , فرس , بيت
Contoh : اَمْرُكَ سَيْرٌ سَيْرٌ
Catatan :
Isim makna = Isim yang maknanya berupa pekerjaan seperti الضرب , المشي
Isim 'Ain = Isim yang maknanya berupa benda yang bisa dilihat mata seperti lafadz زيد , فرس , بيت
ومنه ما يدعونه مؤكدا # لنفسه اوغيره فالمبتدا
نحو له علي الف عرفا # والثانى كابنى انت حقا صرفا
"Wajib membuang amil bila masdar jatuh sesudah jumlah"
Dalam hal ini, masdar dibagi dua, masdar muakkid linafsihi dan masdar muakid li ghoirihi.
Masdar muakkid linafsih adalah masdar yang tidak bisa di artikan lain kecuali masdar.
Contoh : عَلَيَّ اَلْفٌ عُرْفًا
Dinamakan dengan muakkid linafsih dikarenakan masdar menguatkan jumlah yang ada pada sebelumnya. اعترفُ عرفًا اى اعترافًا
sedangkan masdar muakkid li ghoirihi adalah jumlah yang di artikan lain".
Contoh : ابْنِى اَنْتَ حَقًّا asalnya adalah احقه حقًا
Dinamakan masdar muakkid li ghoirihi dikarenakan jumlah yang ada pada sebelumnya masdar patut untuk masdar dan juga selainnya masdar. Dikarenakan ucapan انت ابنى adakalanya memuat makna hakikat, ada kalanya memuat makna majaz. Ketika diberi masdar حقًا maka menjadi penjelas bahwa jumlah tersebut memuat makna hakikat.
كذاك ذو التسبيه بعد جمله # كلى بكا بكاء ذات عضله
"Begitu juga masdar yang mempunyai arti tasybih"