Cara menghitung harga wajar saham
Alhamdulillah saya sudah belajar sedikit tentang saham. Namun yang sering menjadi kendala adalah menentukan harga wajar saham. Jika kita bisa tahu harga wajar saham, kita bisa menentukan apakah sudah saatnya beli saham atau jual saham. Misal sepeda motor X harga wajarnya adalah Rp. 15 juta. Namun karena terhimpit ekonomi, ada orang yang menjual dengan harga Rp. 10 juta. Maka motor tersebut dikatakan murah. Dan berarti kita dapat diskon Rp 5 juta.
Nah alhamdulillahnya lagi saya sudah lumayan mengetahui harga wajar saham. Walau sebenarnya harga wajar saham perhitungan orang-orang akan berbeda beda. Misal saham X menurut saya harga wajarnya 2500, namun bisa saja ada yang menghitung dan menyimpulkan harga wajarnya adalah 2000. Memang begitu. Tidak ada yang bisa memastikan. Namun setidaknya kita punya teori untuk menyimpulkan. Berikut caranya.
Cara yang saya gunakan ini adalah pemahaman saya dari cara yang diterapkan oleh Benjamin Graham dalam sebuah website.
Menurut Graham, PER tidak boleh lebih dari 15x dan PBV tidak lebih 1,5x. Ini hukum normalnya.
Graham menggunakan rumus berikut
√22,5 x EPS x Book Value per Sheet
Keterangan :
22,5 = Normalisasi faktor menurut Graham
EPS = Laba bersih per lembar saham (laba bersih dibagi jumlah lembar saham yang beredar)
Book Value = Nilai buku per saham. Rasio Ekuitas dibagi numlah saham yang beredar.
Contoh :
Jika laba per saham (EPS) perusahaan ABC adalah Rp.5000 & nilai sahamnya Rp.3500. Berapa harga wajarnya?
Jawab :
√22,5 x 5000 x 3500
= √393.750.000
= Rp. 19.850
Maka, harga wahar saham ABC adalah Rp. 19.850. Jika saat ini harga saham adalah 21.000, maka saham tsb kategori Mahal.
Untuk mencari EPS dan Book Value, kita tidak perlu repot-repot menghitung. Kita bisa lihat di RTI seperti berikut.
Kita coba mencari harga wajar saham BBRI.
√22,5 x EPS x BVPS
=√22,5 x 345 x 1957
=√15.191.213
= Rp. 3.915
Sedangkan harga saham BBRI saat ini 4760 maka kategori mahal secara perhitungan. Namun belum tentu, jika kita bandingkan PER dengan perusahaan bank lain. Lagipula PER BBRI masih 13.82x yang belum melebihi 15x.
Cara lain menurut Teguh Hidayat, yakni dengan memperhitungkan PER dan PBV. Walau menurut Graham PER tidak lebih dari 15x, namun kita bisa membandingkan dengan perusahaan yang masih se sektor. Apakah PER dengan segitu tergolong sudah tinggi atau masih rendah. Misal PER UNVR saat ini 29.16x kita coba bandingkan dengan perusahaan lain dan nanti kita ambil rata-rata.
UNVR 29.16x
ACES 16.16x
ICBP 27.19x
KLBF 28.71x
MYOR 39.27x
GGRM 18.16x
HMSP 16.91x
INDF 9.71x
Maka rata-rata PER nya adalah 23.17x
Dari sini kita bisa melihat, mana saham yang PER nya rendah. Semakin rendah PER nya semakin murah harganya. Begitupun sebaliknya.
Beliau lebih suka memperhitungkan PER daripada PBV. Karena PER lebih berkaitan tentang laba.